Oleh: Rawayan_The_A | Desember 27, 2011

Pertemuan Pertama

Disebuah ruangan yang redup, terdengar desing mesin komputer yang sedang menyalaa. sesekali  terdengar suara papan keyboard yang di ketikkan. terlihat sebuah monitor yang sedang menyala, sementara di didepan nya nampak seorang pria dengan serius menatap kearah layar monitor. matanya menari-nari asyik membaca artikel dari sebuah website yang dikunjungi nya. kadang kala terlihat senyum mengembang dari bibirnya di iringi dengan gumaman-gumaman dari mulutya.

“emm… ternyata banyak sekali kegunaan website itu…!” sambil memegang dagu dan mempermainkan janggutnya badoey bergumam. matanya masih fokus kearah monitor mulutnya komat-kamit dikala membaca artikel tersebut. sesekali tangannya memainkan mouse yang ada di atas meja untuk mengganti halaman artikel yang dibacanya.

“memang benar apa yang dikatakan temanku” badoeya mengerlingkan matanya untuk mengingat perkataan temannya.

“…kalau ingin kita dan perusahaan yang kita rintis dapat dengan mudah diketahui dan dikenal oleh banyak orang, sebaiknya kita membuat sebuah website. karena website dapat diakses secara mudah oleh banyak orang, bukan hanya di indonesia saja melainkan diseluruh dun juga. ini menjadikan website sebagai solusi yang tepat untuk media informasi, komunikasi dan promosi bagi sebuah perusahaan maupun individual…” badoey menatap layar monitor kembali setelah sejenak mengingat apa yang dikatakan temannya.

jam dinding sudah menunjukkan pikul 11.15 malam, namun badoey masih tetap didepan komputer asyik dengan aktivitas membacanya. sesekali dia menyeruput kopi hanya sekedar menghilangkan rasa kantuk dan mengembalikan kesegaran tubuhnya.

“Iya..sepertinya aku harus membuat website…”. tiba-tiba badoey bergumam.

“tapi bagaimana caranya, aku kan tidak bisa membuat website?”

“jangankan website, blog aja aku belum begitu ngerti….” badoey mengernyitkan dahinya untuk berfikir bagaimana solusinya.

badoey mulai mengetikan kata dihalaman sebuah website pencarian. tidak lama kemudian hasil dari pencariannya sudah ditampilkan. dengan teliti dan hati-hati badoey membuka dan membacanya satu persatu. namun belum juga menemukan apa yang dicarinya.

“Binggo…ini dia yang aku cari” tiba-tiaba badoey berteriak kecil. kedua tangannya secara reflek mencengkram pinggiran monitor secara gemas, seandainya monitor itu adalah seorang wanita, mungkin dia akan memeluknya, akibat kegembiraannya karena telah menemukan apa yang di carinya.

namun tiba-tiba…

“Waaak…” badoey tersentak kaget tangannya langsung ditarik kembali dan tubuhnya secara reflek segera berdiri dan menjauhi layar monitor.

Brak… kursi yang didudukinya terjatuh.

“sial kenapa ada cicak menempel disamping monitor??? badoey menggerutu kesal, karena barusan dia memegang cicak yang menempel dipinggir monitornya.

Memang badoey adalah aorang yang takut terhadap cecak, karena menurutnya cecak adalah hewan yang menjijikan dan menggelikan.

setelah tenang, badoey mengusir cecak tersebut dengan menggunakan tongkat dan mengatur kursinya kembali yang sempat terjatuh tadi.

“dasar cicak, gak boleh lihat orang senang…” badoey masih menggerutu kesal sambil duduk kembali dikursunya dan melanjutkan membacanya.

“sampai mana tadi…?” badoey berusaha encari apa yang sempat tertunda tadi.
“Oh… ini dia…”.
babastudio.com
nampak badoey tersenyum kembali setelah menemukan kembali apa yang sempat tertunda tadi.
“nama yang unik…”
badoey sedikit mengomentari nama alamat website yang dibukanya.
“coba kita lihat…, apakah service mu seunik dan semenarik namamu?”
badoey berkata seokah-olah sedang berbicar dengan website babastudio.com dan ingin mengenalnya lebih dalam lagi.

Mata badoey terus menatap ke layar monitor, membaca secara detil tentang website babastudio.com sesekali dia mengangguk-anggukkan kepalanyaa pertanda memahami dan mengerti isi dari website babastudio.com.

” luar biasa… ternyata babastudio.com buakan hanya sebagai website peyedia layanan pembauatan website, hosting dan domaina saja. melainkan banyak service yang lainnya juga” badoey terkagum-kagum dengan apa yang ada di website babastudio.com.

“babaflash.com merupakan website untuk belajar animasi, bukukita.com toko buku online, ada juga free sms untuk kirim sms gratis, free games untuk bermain game gratis, free ebook untuk mendownload e-book gratis bahakan free video juga ada” badoey membaca lirih satu-persatu service yang ada di babastudio.com agar lebih puas membacanya.

“banyak sekali service nya…” nada kagum berkali-kali keluar darimulutnya sambil terus-menurus menggelengkan-gelengkan kepalanya sambil terus membaca samapi rasa penasarannya terpuaskan.

“baiklah aku akan membuat website” dengan semangat badoey menetapkan diri untuk membuat sebuah website.

“semangat…! semangat…!”
Ayo membuat website, badoey!!!”
“jangan Ragu-ragu…!!”
“jalannya sudah ada, tunggu apalagi………”
badoey berusaha menyemangati dirinya sendiri untuk membuat sebuah website, lalu kemudian mematikan komputernya dan tidur dengan perasaan yang tenang dan mimpi yang indah bahwa besok akan diawali dengan sesuatu yang baru….

TAMAT

Oleh: Rawayan_The_A | Desember 22, 2011

Andai Lebih Panjang Lagi

“Jika kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.”(Al-Isra’: 7)

Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…. Andaikata yang masih baru… Andaikata semuanya….’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai….”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai. “Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi.

sumner : http://www.dakwatuna.com

Oleh: Rawayan_The_A | September 10, 2007

Kasih Sayang Allah

Seorang lelaki dikenal sangat giat beribadah. Sayangnya ia selalu membuat orang menjadi putus asa terhadap kasih sayang Allah. Hal itu dilakukan sampai ia menemukan ajalnya.

Dalam riwayat itu dikatakan, setelah lelaki itu mati lalu menuntut kepada Tuhan dari kekhusyukan ibadahnya selama di dunia, “Tuhanku, apakah kebahagiaanku di sisi-Mu?”

“Neraka,” jawab Allah.

“Tuhan, lalu di mana balasan dari kerajinan ibadahku?” tanya lelaki itu keheranan.

“Bagaimana boleh. Di dunia engkau selalu membuat orang berputus asa terhadap kasih-sayang-Ku, maka hari ini Aku juga membuat engkau putus asa terhadap kasih sayang-Ku,” jawab Allah.

Oleh: Rawayan_The_A | September 10, 2007

Tips Meredam Marah

Marah dan emosi adalah tabiat manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah saw bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai (H.R. Ahmad).

DAlam riwayat Abu Hurairah dikatakan Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (H.R. Malik).

Menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat. Baca Lanjutannya…

Oleh: Rawayan_The_A | September 6, 2007

Bersama Khadijah

Muhammad digambarkan sebagai seorang berperawakan sedang. Tidak kecil dan tidak besar. Rambutnya hitam berombak dengan cambang lebar. Matanya hitam, roman mukanya seperti selalu merenung. Ia gemar pula berhumor, namun tak pernah sampai tertawa terbahak yang membuat gerahamnya tampak. Ia juga tak pernah meledak marah. Kemarahannya hanya terlihat pada raut muka yang serius serta keringat kecilnya di dahi. Muhammad inilah yang dipertimbangkan Khadijah sebagai suaminya.

Saat itu Khadijah binti Khuwailid berusia 40 tahun -15 tahun lebih tua dibanding Muhammad. Ia pengusaha ternama di Mekah. Bisnisnya menjangkau wilayah Syria -daerah yang menjadi persimpangan antara “Jalur Sutera” Cina-Eropa dengan jalur Syria-Yaman. Ia cantik, lembut namun sangat disegani masyarakatnya. Orang-orang Mekah menjulukinya sebagai “Ath-Thahirah” (seorang suci) dan “Sayyidatul Quraish” (putri terhormat Quraish).” Khadijah dan Muhammad sama-sama keturunan Qushay. Baca Lanjutannya…

Oleh: Rawayan_The_A | September 6, 2007

Dari Gembala ke Manajer

Dalam tradisi keluarga terhormat Arab masa itu, bayi tidak disusui sendiri oleh Sang Ibu. Ia diserahkan pada orang lain yang menjadi Ibu susu. Demikian pula Muhammad. Beberapa hari, ia disusui oleh Tsuaiba -budak paman Muhammad, Abu Lahab, yang juga tengah menyusui Hamzah -paman lainnya yang seusia Muhammad. Kemudian ia diserahkan pada Halimah, perempuan miskin dari Bani Saad yang mencari pekerjaan sebagai Ibu susu.

Semula Halimah menolak Muhammad. Ia menginginkan bayi yang bukan seorang yatim, dan keluarganya sanggup membayar lebih mahal. Tak ada bayi lain yang bisa disusui, Halimah pun membawa Muhammad ke kampungnya. Suasana perkampungan Bani Saad disebut lebih baik bagi pertumbuhan anak dibanding ‘kota’ Mekah. Udara di sana disebut lebih bersih, bahasa Arab-nya pun lebih asli. Di masa bersama Halimah itulah tersiar kisah mengenai Muhammad kecil. Baca Lanjutannya…

Oleh: Rawayan_The_A | September 6, 2007

Menjelang Kelahiran

Muhammad adalah keturunan Nabi Ismail -nabi dengan 12 putra yang menjadi cikal bakal bangsa Arab. Para nenek moyang Muhammad adalah penjaga Baitullah sekaligus pemimpin masyarakat di Mekah, tempat yang menjadi tujuan bangsa Arab dari berbagai penjuru untuk berziarah setahun sekali. Tradisi ziarah yang sekarang, di masa Islam, menjadi ibadah haji. Salah seorang yang menonjol adalah Qusay yang hidup sekitar abad kelima Masehi.

Tugas Qusay sebagai penjaga ka’bah adalah memegang kunci (‘hijabah’), mengangkat panglima perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya (‘liwa’), menerima tamu (‘wifadah’) serta menyediakan minum bagi para peziarah (‘siqayah’). Baca Lanjutannya…

Oleh: Rawayan_The_A | September 6, 2007

Indahnya Cinta Karena Allah

Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَِخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”

Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil `Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba`in An-Nawawiyah). Baca Lanjutannya…

Oleh: Rawayan_The_A | September 6, 2007

CINTA KEPADA ALLAH (MAHABBATULLAH)

Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: “Apakah engkau mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai Ibuku?” Lagi-lagi Ali menjawab,”Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”. Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti. Baca Lanjutannya…

Kategori